Sigi,Sidiktipikor.com— Sebuah surat kecil, ditulis tangan dengan huruf sederhana dan bahasa polos khas anak desa, mendadak menggetarkan hati banyak orang. Bukan ditulis oleh pejabat atau tokoh penting, melainkan oleh seorang siswi Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Sigi.
Namun justru dari kepolosannya itulah, tersimpan cinta yang begitu besar.
Surat itu ditujukan kepada kakak-kakak petugas program makan bergizi di sekolahnya. Isinya singkat, tanpa kalimat puitis, tanpa kata-kata rumit. Hanya permintaan sederhana yang membuat siapa pun yang membacanya terdiam lama.
Ia meminta agar menu makan hari Jumat dibuat lebih enak.
Bukan untuk dirinya.
Bukan karena mengeluh.
Tapi karena ia ingin menjadikan jatah makan siangnya sebagai hadiah ulang tahun untuk sang ayah.
Dalam secarik kertas itu, ia menulis:
“Ka MBG bisa tidak hari Jumat makanannya kasi enak karna besok ulang tahunnya papaku. Saya te punya uang untuk belikan hadiah jadi saya mau kasi MBG ku saja. Jadi besok MBG nya kasi enak mo supaya itu bisa jadi kado buat papaku. Plis.”
Tak ada tanda baca sempurna. Tak ada tata bahasa baku.
Namun setiap katanya terasa jujur… dan menampar lembut hati siapa saja yang membaca.
Di usianya yang masih belia, ia sudah memahami arti berbakti.
Saat anak-anak lain mungkin meminta hadiah, ia justru memikirkan bagaimana memberi.
Ia sadar keluarganya tak punya banyak uang.
Ia tahu tak mampu membeli kado.
Tapi ia tak kehabisan akal.
Baginya, seporsi makan siang gratis dari sekolah sudah cukup berharga untuk dibagikan kepada ayah yang setiap hari bekerja keras untuk keluarga.
Sesederhana itu cara ia mencintai.
Surat tersebut kemudian beredar dan viral di media sosial. Banyak warganet mengaku meneteskan air mata membaca ketulusan sang siswi. Sebagian bahkan mengaku merasa diingatkan kembali tentang makna kasih sayang keluarga yang sering terlupakan.
Tak sedikit pula yang tergerak membantu.
Akhirnya, kabar bahagia datang.
Sang ayah mendapat kejutan kue ulang tahun dari pihak-pihak yang peduli setelah membaca surat anaknya. Sebuah perayaan kecil digelar sederhana, namun hangat.
Tak ada pesta mewah.
Tak ada hadiah mahal.
Hanya tawa, pelukan, dan air mata haru.
Momen itu menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, ia tumbuh dari niat kecil seorang anak yang hanya ingin melihat ayahnya tersenyum.
Kisah ini pun menjadi pengingat bagi banyak orang:
di tengah segala keterbatasan, cinta keluarga tetap menemukan jalannya.
Karena bagi seorang anak, hadiah terbaik bukanlah benda mahal,
melainkan kesempatan untuk berkata,
“Ayah, ini untukmu. Dari aku.”
Reporter Anjasman

